kurang lebih sebelas tahun di perantauan, tak terasa selama itu hidup di tanah orang, seiring waktu roda berputar menjalani hidup demi mencukupi kebutuhan keluargaku.
Betah gak betah harus di jalani, mengarungi samudra hidup di tanah orang yang penuh tantangan, cobaan dan rintangan.
Walaupun jalan sulit, sukar dan melintang aku pun harus ambil dan menerima tantangan itu.
Hari demi hari kujalani untuk berjuang mencari sesuap nasi tuk kelangsungan hidup demi memenuhi kebutuhan keluargaku.
Menjalani hidup di perantauan, ibarat mendaki gunung tinggi yang tak ada ujung puncaknya, begitu pun menjalani kehidupan ini untuk mencapai sukses keberhasilan seakan mengarungi samudra bagaikan tiada tepinya.
Hari-hari ku, berangkat pagi pulang petang kadang larut malam, tapi harus ku jalani karena tuntutan kerja, pulang ke rumah pun tak selalu on time.
Satu waktu aku kebetulan pulang sore, istriku menyambut ku, tak lupa istriku menyuguhkan kopi kesukaan ku, istriku pun duduk di sampingku trus istriku berkata, papa...tadi anakmu bertanya padaku.
Papa pulang kerja jam berapa?? kog waktunya tak beraturan sampai di rumah.
Dan jawabku : papa pergi pagi pulang waktu tak pasti, papa pergi berjuang membawa kesedihan, papa pulang pasti membawa sejuta kebahagiaan.
Inilah sebuah kisah ku yang masih bertahan di perantauan, bagi yang punya keinginan untuk merantau, jangan ragu-ragu jika punya kemauan untuk mengadu nasib di tanah orang, dimana ada kemauan pasti disitu ada jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar